KUBURAN DI KAKI GUNUNG

Azzam Haedar Aqila

Pada hari Rabu, sekelompok mahasiswa pecinta alam sedang merencanakan pendakian di gunung Sumbing. Mahasiswa itu berjumlah lima orang, mereka bernama Khattab, Husain, Zaid, Hafiz dan Kholid, yang berasal dari Sragen Jawa Tengah. Mereka berencana berangkat hari Kamis pukul enam sore.

Keesokan harinya, mereka terlihat senang karena ingin mendaki gunung Sumbing. Mereka sampai basecamp pukul 5 sore. Sembari menunggu waktu magrib, mereka bercanda sejenak. Saat memasuki waktu magrib, mereka segera sholat magrib berjamaah. Setelahnya mereka menyantap makan malam sebagai bekal mendaki.

Selang beberapa menit, mereka memulai aksi mereka mendaki gunung Sumbing. Mereka berjalan menyusuri hutan rimba yang sangat gelap. Sesampainya di pos satu mereka langsung melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di pos dua, mereka istirahat sejenak untuk melemaskan otot. Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, Zaid mendengar teriakan seseorang.

“Tolong….tolong.”

“Kalian dengar, nggak?” tanya Zaid pada teman-temanya.

“Dengar apa?” tanya Khattab.

“Suara minta tolong.”

“Kamu gak usah nakutin, mana ada suara begitu,” ucap Kholid kesal. Akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Pos tiga mereka lewati dengan perasaan yang tidak enak. Beberapa menit kemudian mereka bertemu dengan seorang kakek membawa kayu bakar dan mereka menyapa.

“Permisi, kek,” ucap mereka. Kakek tersebut hanya melirik tanpa menjawab sapaan mereka.

Sampai di pos 4, Husain tiba-tiba merasa kebelet pipis dan tidak bisa ditahan. Husain memutuskan untuk pipis sembarangan membuat Kholid melarangnya.

“Jangan pipis sembarangan di hutan,” ucap Kholid kesal. Husain hanya nyengir.

“Mendingan kita cepetan biar bisa lihat sunrise,” kata Hafiz pada teman-temanya.

Sampai di pos 5, mereka masih berlari karena ingin berburu sunrise. Tiba-tiba Husain tersandung sebuah batu. Namun saat diperhatikan batu tersebut ternyata sebuah batu nisan.

“Masak di hutan ada batu nisan?” Zaid merasa heran.

Kholid pun mengarahkan senter ke beberapa penjuru, di sana nampak beberapa batu nisan. Ternyata lingkungan itu adalah kuburan ghaib. Mereka mulai ketakutan dengan situasi ini. Khattab dengan keberaniannya mendekati kuburan tersebut. Tanpa mereka sadari jika di atas kuburan tersebut ada sosok pocong sedang duduk.

“Ada pocong, mendingan kita turun aja gak usah lanjutin naik,” ajak Khattab dengan ketakutan.

“Oke,” jawab mereka kompak. Karena situasi sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, Mereka pun berlarian turun dari pos lima dengan ketakutan.

Mereka gagal sampai ke puncak gunung Sumbing karena sebuah kejadian yang tak pernah mereka duga. Kuburan ghaib yang ada di gunung Sumbing yang tadinya hanya mereka dengar kisahnya, sekarang mereka mengalaminya sendiri.

Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung didirikan pada 11 Muharrom 1403 H / 1 November 1982 oleh Muhammadiyah Cabang Tembarak di Desa Purwodadi, lereng Gunung Sumbing, sebagai respons atas kebutuhan akan generasi yang tafaqquh fiddin.

Post Comment